NOVEL PSIKOLOGI SPIRITUAL
CATATAN CI CI
Vonis Penista Sang Penyintas
Karya: Aris Margono
DAFTAR ISI
BAB I AKU
BAB II SAHABATKU
BAB III TUHANKU
BAB IV CANDAAN TUHANKU
BAB V CANDAANKU
BAB VI SAAT TUHAN MEMBABTISKU
BAB VII MAKALAHKU TENTANG PLASENTA NABI ISA
BAB VIII MAKALAHKU TENTANG SIDRATUL MUNTAHA
BAB IX AKU DIVONIS PENISTA DAN GILA
BAB X MAKALAHKU TENTANG IMAM MAHDI
BAB XI MAKALAHKU TENTANG TUHAN ITU ILMIAH
BAB XII WAKTU KEMATIANKU TIBA
BAB I
AKU
Cici adalah nama panggilanku. Ketika masih kecil-kecil, sepupuku mereka panggil aku Cici karena masih celat atau cadel, tidak bisa sebut Sri. Sebenernya aku tidak ingin menulis ini, cuma iseng nulis aja, karena kebetulan tadi sempat ngobrol dengan seseorang di hatiku tentang bapakku. Aku mengatakan kepadanya bahwa dia beruntung punya keluarga yang baik, punya ayah dan ibu yang sangat baik. Tidak sepertiku yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Dari aku umur dua tahun, adikku umur sebulan, bapak ceraikan mamak, tanpa mau menafkahi anaknya sebagaimana mestinya, mungkin aku dianggap mantan anak dari mantan istrinya. Bahkan terakhir aku ketemu bapak sebulan sebelum meninggal, bapak seolah tak mengenalku. Sedih sih, tapi itulah takdir yang harus aku terima. Aku tak ingin menuntut apapun dari bapak, sebelum maupun setelah dia mati.
Hidup sudah diatur Tuhan, manusia tinggal menjalaninya. Nikmati aja, selalu ada yang harus disyukuri. Tuhan maha baik. Aku tak pernah ingin menyalahkan siapapun. Lebih sering menyalahkan diri sendiri. Bapakku mati dalam keadaan baik. Adik tiriku cerita, katanya bapakku sebelum meninggal tidak ada keluhan sakit, kecuali dia menderita esteroporosis yang menyebabkan kakinya tak bisa lagi berjalan. Bukan menderita pikun, Alzheimer, dan sejenisnya. Bahkan sebelum meninggal, dia sempat minta maaf ke saudara tiriku itu, kemudian dia pamit mau pergi tidur, kemudian dia meninggal dengan tenang, tidak dalam kesakitan. Nasib manusia, Tuhan yang menentukan. Tak ada yang perlu dipersalahkan semua terjadi pasti selalu ada alasannya.
Jam sebelasan malam, tanggal 20 malam 21 Ramadan 1426 Hijriah atau tanggal 25 malam 26 Oktober 2005 Masehi, rumahku heboh karena aku teriak-teriak, karena alam bawah sadarku mengikuti arahan suara Tuhan, sampai semua tetangga sekomplek heboh ke luar semua. Banyak yang berusaha menolongku dengan segala cara. Ada yang mengambil garam, air, dan lain-lain untuk menyadarkanku. Mereka pikir aku kesurupan. Padahal aku mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Akhirnya aku pingsan, tapi dalam pingsanku aku tetap bersama suara Tuhan. Setengah sadar aku merasa tubuhku lemas tak berdaya, tak sadarkan diri, diangkat oleh banyak bapak bapak, dibawa masuk mobil, untuk dibawa ke rumah sakit.
Dalam pingsanku, aku dengar Tuhan mengatakan kalau aku akan diceburkan ke laut, tapi aku pasrah, dan sesaat kemudian aku benar-benar merasa seperti diceburkan ke dalam air sehingga aku merasakan nyata tubuhku terasa berada dalam air. Namun, faktanya itu adalah pengalaman gaib yang aku rasakan sangat nyata. Walaupun mungkin kenyataannya tubuhku dingin dalam keadaan tidak sadar dipangku bapak-bapak di mobil dalam perjalanan ke rumah sakit.
Sesampai di UGD Rumah Sakit Otorita Batam, kejadiannya lebih heboh lagi, bikin rumah sakit gempar. Dalam ketidaksadaranku, aku dengar suara Tuhan memerintahkan aku untuk menendang dokter yang memeriksaku. Anehnya aku nurut saja. Selanjutnya Tuhan memperdengarkan suara-Nya yang maha agung, masyaallah suara yang sangat indah.
Sebelumnya aku diperdengarkan seperti ada suara dua batang kayu yang diketokkan beradu dua kali di atas kepalaku, tok... tok...
Kemudian Tuhan berkata, "Aku Allah taala, kau sudah Kumatikan, kau sudah Kuampuni. Sekarang hiduplah dengan jiwa yang suci, dan kau Kuberi nama Sri Maharani." Sesaat setelah itu, aku dibangunkan, disadarkan dari pingsanku. Kemudian aku teriak-teriak keras lagi, sampai berujung aku mengikuti arahan suara Tuhan yang menyuruhku memberontak dan menendang dokter yang mau menyuntikku obat penenang. Kemudian aku kembali tak sadarkan diri lagi.
Sejak kejadian itu, aku diberi kemapuan berbicara dengan Tuhan. Aku lebih suka menyendiri dan berbicara dengan Tuhan. Tidak apa-apa, jika orang-orang bilang aku stres, aku gila, hanya karena aku tergila-gila pada Tuhan. Aku tuliskan percakapan-percakapanku dengan Tuhan di Facebook-ku.
Setelah kejadian tanggal 20 malam 21 Ramadan itu, otakku seperti ke reset, dan berkali-kali setelahnya aku masih sering teriak-teriak, dan kadang tiba-tiba pingsan bahkan pernah pingsan di mobil ketika sedang diajak dalam perjalanan.
Aku melihat muka orang merasa seperti tidak asing, tapi aku kesulitan mengingat dan mengenalinya. Setiap kali ada tamu, aku selalu ditanya, kamu ingat tidak ini siapa? Aku kesulitan mengenali orang, kecuali orang yang sangat akrab. Aku merasa melihat wajah orang seperti sulit mengindentifikasi siapa namanya? pernah ketemu di mana? Aku merasa seperti melihat wajah orang hampir mirip semua.
Sayangnya sampai sekarang, setelah 20 tahun berlalu, aku masih seperti itu meskipun tidak separah sebelumnya. Dan, aku seperti sudah sedikit bisa mengingat kenangan masa lalu, mencoba bisa berdamai dengan diri sendiri untuk bisa mau menerima masa lalu walaupun aku tak ikhlas. Sampai berkali-kali bahkan sampai sekarang aku sering berkata kepada Tuhan, "Alangkah baiknya jika aku tak pernah Kau ciptakan ya Allah."
Mungkin karena selalu kepikir seperti itu, aku sering mengatakan itu kepada Tuhan hingga dalam tidur pun, seperti hanya jasadku yang beristirahat sementara jiwaku tak pernah berhenti diajak bicara oleh Tuhan. Bahkan dalam tidur pun serasa mimpi itu seperti nyata. Ketika Tuhan memperlihatkan ada buku di meja yang ada di hadapanku, kemudian Tuhan mengambil buku yang sudah penuh terisi catatan itu, dan menggantikan untukku buku catatan hidupku dengan buku yang masih baru, diperlihatkan kepadaku buku itu masih kosong. Hanya bertuliskan namaku "Sri Maharani".
Aku jadi ingat bulan-bulan pertama setelah perjumpaanku dengan Tuhan, ketika Tuhan masih memperdengarkan suaranya lebih keras, bahkan Tuhan berbicara kepadaku seperti dari arah langit yang di atas kepalaku, kadang dengan seiring suara gelegar geludug guntur petir maupun seiring suara air keran, dan lain-lain.
Yang paling berkesan, ketika aku memegang semut, Tuhan yang menghempaskan semut itu dari tanganku. Tuhan berkata, “Tuh, aku yang mematikan semut itu untukmu, he he.” Karena dari dulu aku paling takut bunuh binatang, aku selalu baca bismillah dulu, istghfar, dan innalillahi setelah binatang itu mati. Aku pernah merasa sangat bersalah banget ketika karena aku gelian dan takut kelelawar, tapi aku merasa sangat bersalah ketika aku panik sampai menginjaknya.
Tuhan masih sering meledekku, mengatakan Aku mengutus Jibril di tanganmu, sehingga aku sering menyendiri di kamar atas, bawa buku dan pena, aku sering dibercandain, tanganku seperti bergerak sendiri menuliskan sesuatu baik yang serius maupun yang lucu, yang bikin aku ketawa lepas.
Setiap bangun tidur, aku mencari suara Tuhan. Aku sudah lega ketika aku sudah mendengarnya. Kali ini Tuhan berkata, "Jika ada yang tak percaya bahwa kau bisa bicara dengan-Ku Allah taala, maka jangan hiraukan mereka, biarkan mereka dengan asumsi mereka".
BAB II
SAHABATKU
Sejak tahun 2016, aku pulang kembali ke Kebumen, tinggal di rumah warisan dari orang tua suami untuk menemani ibu mertuaku. Suamiku tetap tinggal di Batam mengelola aset keluarga kami. Anakku yang pertama laki-laki, lulusan Ilmu Komunikasi UI. Sekarang sudah bekerja di Surabaya jadi marketing di perusahaan otomotif Jepang, Subaru. Anakku yang kedua, perempuan kuliah di UGM, tapi sekarang pindah ke ISI Jogja. Anakku yang ketiga laki-laki, kuliah di Unesa, jurusan Sastra Inggris.
Anakku yang kedua sering pulang, karena Kebumen-Jogja tidak begitu jauh. Aku juga sering ke kostnya mengatarkan ayam ungkep dan kering tempe, lauk kesukaannya. Suatu saat pas anakku pulang, aku sedang di kamar bicara dengan sahabatku. Dia, dengan sopan selalu mengatakan terlebih dahulu, “Are angry to me if i know something about you? "
Tapi, aku bilang ke dia, "Whatever i do in my life is my affair with go, be grateful whatever you know about me , its cause you have miracle gift from god , be grateful you created to be special blessing dan beauty person , you a rare person that i ever see in my life.”
Anakku takut dan bilang, “Sudah Bu, Ibu jangan bicara sendiri, saya takut kalau Ibu begitu.” Aku hanya tertawa geli, anakku tidak tahu kalau aku sedang berbicara dengan sahabatku. Kami sering bercanda sampai kami sering tertawa-tawa bersama. Kebanyakan yang kami obrolkan urusan perasaan dia. Dia juga jujur kasih tahu aku ketika jatuh cinta sama orang Kalimantan. Semua diceritakan oleh dia, sampai pernah berbuat 18+ pun dia ngaku.
Sahabatku ini sudah yatim piatu. Dia lahir pada tahun 1994. Abang dan bapaknya juga Angkatan Laut di negaranya. Bapak dan ibunya meninggal di tahun 2015. Saya sering ngobrol dengannya menggunakan bahasa Inggris. Cuma karena terbiasa ngobrol sama dia di hati, aku jadi bisa Bahasa Inggris. Yang penting kami ngerti apa yang kami omongkan, tidak mikir grammar.
Awal persahabatanku dengan dia melalui pertemanan di facebook, cuma sekadar say hello, chat biasa ledek-ledekan, tapi saya kagum dengan kepolosan, kelurusan, kejujuran, ketampanan, pekerjaan, dan kecerdasannya. Keistimewaannya, tidak ada yang ditutupi darinya, tidak ada kebohongan sedikitpun darinya. Kalau dia mungkin cuma sekadar penasaran ke aku yang dia mungkin dinilai tertutup dan agak misterius.
Seperti biasa walaupun sendiri aku tidak pernah merasa sepi karena di telingaku kadang terdengar ramai suara orang meskipun sekitarku senyap. Kadang terdengar suara orang yang aku kenal meskipun dia berada jauh di negara lain, seperti suara sahabatku itu, bukan komunikasi dengan handphone atau dengan medsos melainkan dengan hati. Kadang aku hanya dengar suara Tuhan saja.
Seperti tadi malam sekitar jam tiga dini hari, dalam hati aku masih ngobrol dengan sahabatku. Aku pamit padanya kalau aku mau tahajud dulu, kemudian aku bertanya, “Jam berapa ini ya?” Namun, jawaban dia tidak sesuai. Aku kaget, aku jadi ingat perbedaan waktu antara Indonesia dan sana. Sontak aku bilang, “Wah, tidak bener tu, tapi ketika di kamar mandi membersihkan diri, tiba-tiba aku denger bukan dari hati atau bisikan halus gaib di telinga, melainkan suara kasar nyata yang benar-benar aku dengar ketika di kamar mandi seperti suara orang tertawa, spesifiknya mungkin mirip suara kunti. Aku di rumah sendirian. Aku agak takut dengernya. Aku hanya bisa istighfar kemudian buru-buru ambil air wudu. Semoga sah karena aku wudunya tidak fokus karena buru-buru. Aku salat tahajud dan lain-lain. Habis salat subuh aku baru ke belakang lagi, tapi aku hanya berpikir bahwa segala suara, segala kuasa adalah kuasa dan ciptaan Tuhan. Aku hanya bergumam, “Allah memang ada-ada saja, sambil senyum-senyum sendiri mengingatnya.
Ada satu hal yang aku pikirkan tentang sahabatku. Dia yang awalnya tak sengaja bertemu denganku, seperti bagaikan malaikat yang menolongku, tapi karena aku merasa berhutang, maka aku jadi terpikir untuk memberikan sesuatu sebagai tanda terima kasih. Namun, karena aku menyadari aku kaku, tak pandai mengimbangi uluran persahabatan dengan menyenangkan sebagaimana mestinya. Sehingga aku harus putus komunikasi dengannya, pastilah karena kekurangan dan kesalahanku.
Padahal dia orang yang sangat baik, tapi lagi-lagi aku harus menerima kenyataan, aku harus kehilangan. Aku hanya bisa menyesal, dan pastilah aku juga sebenernya ingin tahu kabarnya. Aku hanya selalu berharap semoga dia baik-baik saja. Dan, aku pastilah tak akan pernah ikhlas jika dia malah mendapatkan apes karena kebaikannya menolongku. Makanya aku tambah parno ke akun yang inisialnya mirip dengan namanya K.H. Ketika aku baca vt-nya mengatakan, “Niatnya menolong orang malah dirinya sendiri tak tertolong".
Aku sedih banget, nyesel jika karena dia menolongku sehingga berujung dia mendapatkan apes karenaku. Aku hanya berharap senoga dia baik-baik saja. Semoga dia masih kerja dan menjabat di instansi seperti sebelumnya. Doa terbaikku selalu untuknya dan keluarganya. Jika aku diizinkan melihatnya, berjumpa dengannya, pastilah aku sangat bersyukur. Meskipun karena minderku, aku tak mungkin sanggup untuk menyapanya apalagi menjumpainya. Meskipun aku merasa masih berhutang ribuan kata maaf, penyesalan dan terimakasih padanya. Cukup aku sanpaikan kepada Allah saja.
Aku tak pernah ingin menyalahkanmu atas rasa sakitku. Jika aku harus menderita, itu karena kesalahanku sendiri. Aku telah membiarkan hatiku menyesatkanku. Aku seharusnya tidak berbicara denganmu tentang semua hal yang tidak seharusnya aku katakan, dan aku seharusnya tidak memikirkan hal-hal yang tidak berhak aku pikirkan.
Kamu harus pergi dari hatiku. Tolong maafkan aku. Selamat tinggal. Aku tidak khawatir tentangmu. Karena aku percaya bahwa Tuhan selalu peduli padamu lebih dari yang aku inginkan. Tapi, aku harus mengkhawatirkan diriku sendiri. Aku tidak bisa menahan diri, jadi aku hanya bisa mengandalkan pertolongan Tuhan. Selamat tinggal, suara hatiku. Tolong pergilah dariku. Aku tidak membutuhkanmu. Aku hanya membutuhkan Tuhan. Aku percaya Allah akan membuatmu bahagia. Aku percaya Allah akan mengganti semua yang telah hilang darimu. Aku percaya Allah akan menyembuhkan rasa sakitmu.
Kamu adalah orang terbaik, polos, jujur, tampan, setia, dan luar biasa yang pernah kutemui dalam hidupku. Aku percaya belahan jiwamu pastilah seseorang yang sebaik dirimu. Aku yakin kamu akan mendapatkan orang terbaik. Beruntunglah orang yang akan menjadi milikmu. Semoga Tuhan selalu memberkahimu. Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Kamu berhak bahagia. Semoga Tuhan memberkahimu dan selalu memberikan kebahagiaan kepadamu.
BAB III
TUHANKU
Sekarang aku merasa lega. Mungkin sulit dipercaya, sekarang hatiku terasa lega, seperti ruangan yang tak lagi terasa sesak, terasa hening menenangkan. Tak ada lagi suara dia selain Allah, yang berisik, bikin galau, insecure, sakit hati, sedih, kacau, bingung, dan resah. Dia sahabatku sudah pergi dari hatiku, tapi aku tetap menghargainya, aku tetap mengharapkan kebaikan untuknya. Sekarang aku lega, hatiku terasa hening, tapi tak terasa kosong maupun sepi hampa. Hanya ada Tuhan yang membuat hatiku terasa seperti menjadi ruangan dengan hawa yang terasa sejuk dan menenangkan.
Semoga malam ini adalah malam pertolongan Tuhan. Aku harus terbebas dari mimpi menyakitkan yang menyesakkan dada. Semoga hatiku segera dibersihkan dari segala urusan yang tidak penting. Semoga Tuhan menolongku untuk membersihkan pikiran dan batinku dari memikirkan selain Tuhan. Semoga aku bisa kembali fokus hanya kepada Tuhan saja.
Ketika aku memanggil nama Tuhan dan mencari suara Tuhan dari hatiku. Ketika aku memohon kepada Tuhan supaya tidak meninggalkanku, supaya semoga Tuhan selalu berkenan menolongku untuk bisa lebih baik kepada-Nya, Tuhan menjawab, “Jangan kuatir, Aku Tuhanmu.”
Alhamdulillah, aku bersyukur masih diperkenankan mendengar suara-Mu.
Hari-hari, setiap kali aku masih mendengar suara selain Tuhan di hatiku, aku berusaha keras menahan perasaanku, aku tak ingin lagi diuji dengan kegalauan dan kekecewaan yang tak perlu aku rasakan. Seraya hati dan pikiran serta mulutku memanggil nama Allah. Berkali-kali aku berkata, "Tolong aku Tuhan, tolong aku Tuhan, tolong aku Tuhan. Aku tak mau lagi memikirkan selain Engkau. Aku hanya inginkan Engkau, ya Allah.”
Allah menjawab, “Jangan kuatir, Aku akan menolongmu, Aku ingin memaafkanmu, kau pasti malu setelah tahu kebaikan apa yang akan Kuberikan kepadamu.”
Semoga aku bisa melakukan apapun yang harus aku lakukan supaya aku bisa mendapatkan kebaikan seperti yang Kau janjikan ya Allah, Amin.
Hidupku sudah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa merubah takdir dari-Nya. Tiap orang diberi jalan takdir masing-masing. Bagaimana mungkin aku bisa mencari jalan lain selain jalan yang sudah dipersiapkan Tuhan yang harus aku jalani. Tak ada yang mampu melawan takdir.
Ya Allah, aku merindukan ingin mendengar kembali suara malaikat berdzikir berbaris berjalan berderap seperti diiringi alunan musik begemerincing berdecak indah yang sering Allah perdengarkan kepadaku saat-saat pertama perjumpaanku dengan Mu, ya Allah.
Masyaallah terdengar suara takbir mengelilingi kepalaku.
Alhamdulillah. Terima kasih, ya Allah.
Tiap kali setelah salat, aku berkata, “Ya Allah aku merindukan-Mu. Aku merindukan diriku untuk bisa selalu lebih baik kepada-Mu.”
Tuhan menjawab, “Sayangi dirimu, kau tak kan menyangka kebaikan apa yang akan kau terima dari-Ku.”
Ketika aku mohon perlindungan kepada Allah karena aku takut dengan apa yang kupikirkan, apa yang kurasakan, dan dengan apa yang kulakukan.
Tuhan menjawab, jangan takut, karena aku yang mengendalikan-Mu.
Allah berkata, "Aku tak pura-pura ingin jadikan kau pembantu-Ku di bumi."
Aku menjawab, "Semoga aku bisa melakukan apa pun yang seharusnya aku lakukan untuk-Mu."
Tuhan berkata kepadaku, “Tak ada gading yang tak retak.”
Tapi aku menjawab, “Sayangnya aku tak hanya retak melainkan hancur tak berbentuk.”
Tuhan menjawab, “Jangan kau pakai nama Sri Maharani jika kau selalu menyalahkan dirimu sendiri.”
Aku jawab, “Nyatanya siapapun namaku, aku tak kunjung hanya berbuat baik di hadapan-Mu”.
Akulah yang menjalani hidupku. Aku yang melakukan kesalahanku. Alangkah baiknya jika aku tak pernah ada.
Tuhan menjawab, “Semua adalah kehendak-Ku. Jangan kau salahkan dirimu sendiri.”
Dengan rasa kecewa dan penyesalan yang teramat sangat, aku sering mengatakan kepada Allah,
“Ya Allah apakah aku musuhmu, ya Allah?”
Tapi Allah selalu menjawab, “Tidak Sri, kau adalah kekasih-Ku.”
Berkali-kali Allah mengatakan kepadaku supaya tidak takut melanjutkan hidupku. Sayangnya aku tak percaya diri untuk melanjutkan hidupku. Aku hanya bisa pasrah kepada Tuhan untuk melanjutkan hidupku.
Semoga Tuhan memudahkan aku untuk bisa membayar semua hutangku dalam hidupku, semua kesalahanku, kuanggap sebagai hutangku. Semoga aku bisa membayarnya.
Berkali-kali aku mengatakan kepada Allah, "Alangkah baiknya jika aku tak Kau ciptakan sehingga tak pernah ada di hadapan-Muu yang suci ini, ya Allah."
Allah menjawab, "Akulah pemilik hidupmu, jangan kau salahkan dirimu sendiri, percayakanlah kepada-Ku!"
Ketika aku berdoa kepada Allah, “Ampuni aku ya Allah. Aku telah Kau ciptakan, tapi aku tidak selalu bisa sepenuhnya, perkataanku, sikap dan perbuatanku hanya selalu bisa hanya untuk menghargai-Mu.”
Kemudian Allah menjawab, “Aku akan selalu berdiri di jemarimu. Tak ada rencana yang tak tak baik untukmu, percayalah.”
Aku jawab, “Insyaallah. Amin.”
Hampir setiap saat ketika aku mengingat dan memanggil nama Allah dalam hatiku, seketika itu Allah langsung menjawab panggilanku, "Ya, Aku Tuhanmu."
Dan, setiap kali aku mengungkapkan rasa bersalahku yang membuatku tak ingin memaafkan diri sendiri, sehingga aku sering memohon ampun kepada Tuhan alangkah baiknya jika aku tak diciptakan sehingga tak pernah menodai hadapan Tuhan yang suci.
Namun, kadang Tuhan malah menghiburku bahkan mencandaiku dengan mengatakan, "Aku mencintai hamba-Ku yang selalu merasa bersalah sepertimu yang dikatakan tulus dari hati, jangan takut!”
Jawaban Tuhan membuat aku jadi lebih tenang. Aku selalu berharap semoga Tuhan selalu membuatku bisa lebih baik. Semoga Tuhan selalu mengizinkan aku bisa melakukan yang baik terhadap Tuhan. Aku ingin merasakan menjadi manusia yang baik. Itu yang selalu aku katakan kepada Tuhan.
“Asyik kan, hidup dengan Tuhan?”
Aku telah menentukan pilihan, cinta sejatiku hanya untuk Allah saja. Aku tak keberatan meskipun jika cintaku hanya bertepuk sebelah tangan sekalipun.
Allah menjawab, “Aku tak akan menolak cintamu, kau orang yang terpilih.”
Alhamdulillah, insyaallah, amin.
BAB IV
CANDAAN TUHAN
Tuhan juga suka ajak bercanda orang yang diizinkan bisa mendengar suara-Nya. Kadang aku kaget dengernya, tidak disangka-sangka seperti waktu itu tiba-tiba saja Tuhan bertanya, “Gimana cara membunuhmu, ya Sri?"
Maka aku jawab, "Hidup matiku ada di tangan-Mu, aku pasrah kepada-Mu."
Anehnya aku dengernya tidak panik dan tidak takut, kayak tenang aja gitu. Terus Tuhan jawabnya malah bercanda,"Ya udah lah kalo gitu, Aku aja yang bunuh diri," sambil ketawa.
Aku jadi ikut ketawa sambil bergumam, "Tuhan nih ada-ada aja."
Jangan dikira Tuhan tidak suka mengajak bercanda orang yang diizinkan bisa mendengar suaranya. Seperti tadi beberapa saat setelah aku upload tentang salat. Allah memperdengarkan suaranya yang menggambarkan rasa bahagianya kepadaku. Allah mengatakan, “Hey hey hey Ci Ci, Gue Tuhan Lu Ci,” sambil memperdengarkan suara ketawa kecilnya yang riang mengundang tawa bahagia.
Barusan aku kepikiran jam tanganku yang hilang. Kemudian aku bergumam, "Allah yang mengambil?"
Tiba-tiba Allah menjawab, "Tidak, bukan Aku yang ambil, cari aja dulu pasti ketemu!"
Aku kaget dengernya, sampai ketawa sendiri. Astagfirullah.
Janji Allah memang selalu pasti. Alhamdulillah akhirnya ketemu juga, padahal dari tadi udah dicari di situ, meskipun kotaknya udah di pegang, udah kubuka kotak itu, tapi kok tadi tak nampak ada jam di kotak itu. Mungkin aku kurang teliti. Anehnya jam segini baru ketemu, sudah nyariin sampai ke semua ruangan rumah, atas dan bawah, baru ketemu. Alhamdulillah, makasih ya Allah.
Ketika aku memikirkan dan mengatakan tentang sesuatu yang kupercaya bahwa semua adalah kehendak Tuhan, tak akan terjadi jika Tuhan tak menghendaki. Tiba-tiba Tuhan menjawab, “Lah, Aku juga kan yang disalahin, walaupun perkataan-Ku benar.”
Tapi begitulah Tuhan pun kadang mau mengajak hamba-Nya bercanda dengan orang yang diizinkan bisa dengar suaranya. Alhamdulillah segala puji adalah kepunyaan-Nya.
Pada bulan puasa, setelah salat tahajud dan witir, aku kasih makan kucingku.
Sebelum saur seperti biasa aku cari-cari selera, mau makan pake apa? Aku pingin makan ini, tapi aku juga pingin makan itu.
Tuhan berkata,”Jangan rakus!”
Aku jawab, “Insyaallah.”
Tapi setelah aku makan, aku masih ingin makan itu pula, tapi aku pingin turuti juga keinginanku itu, aku berkata, “Sedikit lagi, ya Tuhan.”
Aku masak mi rebus yang aku inginkan, aku membelah dua mi nya, kata Tuhan, “Dikit aja!” Maka aku potek lagi dari yang setengah, jadi aku cuma ambil seperempat bagian dari kemasan mi instan itu. Tapi, pas aku masukkan mi itu ke air yang aku rebus, mendadak mati lampu. Setelah aku rasa cukup matang, dalam gelap aku bawa panci berisi seperempat potong mi itu ke luar dari dapur. Tapi aku udah tak selera makan lagi. Itulah kuasa Tuhan. Allah emanglah ada-ada aja. Pas sebelum azan subuh, listrik baru hidup lagi. Alhamdulillaah.
Tuhan mengingatkanku untuk menyelesaikan makalahku. Ya Allah, ampuni aku selama bulan puasa aku memang belum pernah menyentuh makalahku, cenderung malas-malasan. Ya Allah terima kasih sudah mengingatkanku.
Aku dari tadi bingung nyari charger laptopku. Udah lama aku tidak buka laptop. Tidak tahu di mana kutaruh chargernya, sampai sekarang belum ketemu juga. Seperti biasa aku juga tanya ke Tuhan, “Ya Allah, di mana sih kutaruh charger laptopku?”
Tuhan malah bercanda menjawab, “Di hatimu.”
Aku sudah tidak terlalu ngantuk, tapi masih ingin berbaring setelah kelar nyetrika. Tiba-tiba terdengar suara Tuhan mengatakan, "Pemalas!"
Aku menjawabnya dengan memohon ampun dan memohon semoga Tuhan menghilangkan segala keburukanku, semoga Tuhan mengizinkan aku hidup hanya untuk melakukan yang terbaik.
Kemudian Tuhan menanyakan lagi, "Apa yang ingin kau dapatkan dalam hidupmu?"
Aku menjawab, “Kau sudah memberikan segalanya kepadaku, Alhamdulillah.”
Aku lagi minum teh sambil makan buah salak. Tiba-tiba Allah berkata "Hanya aku Tuhanmu Sri." Aku menjawab, "Iya, ya Allah, Alhamdulillah."
Sesaat setelah aku upload tentang, “Jangan jatuh cinta kepadaku, aku sudah tua.”
Tuhan malah yang menjawab, “Kau memang sudah tua, tapi percayalah Aku tetap jatuh cinta kepadamu selamanya.”
Aku berbisik memohon supaya Tuhan tidak meninggalkanku, ketika aku kembali memanggil nama Allah lagi, Allah malah kembali menjawab, "Tolong jangan tinggalkan Aku, Sri." Sambil tersenyum aku menjawab, “Amin, terima kasih ya Allah, Alhamdulillah.”
Ketika teringat Allah, aku berbisik, "Aku kangen ya Allah." Allah langsung menjawab, "Aku ada di sini." Alhamdulillah, tolong jangan pernah tinggalkan aku ya Allah. Amin.
Setiap bangun tidur yang kucari adalah suara Tuhan. Aku sudah lega kalau aku masih dengar suara Allah. Jam dua pagi dalam hening aku masih dengar suara Tuhan berkata kepadaku, "Kau tahu siapa yang ada di hati mu?"
Aku jawab, "Allah."
Tuhan jawab, "Iya, akulah Allah Tuhanmu."
Alhamdulillah, semoga aku tak pernah ditinggalkan oleh suara Tuhan. Amin.
Ketika Tuhan ngeledek aku dengan mengatakan, "Jangan ada dusta di antara kita Ci!"
Aku ketawa sampai nanya dengan suara siapa nih?
Tuhan jawab, "Aku Tuhanmu."
He, he, alhamdulillah terima kasih ya Allah
Kadang ketika aku bergumam sendiri memikirkan sesuatu, contohnya ketika aku sendirian ataupun dalam keramaian, kadang Tuhan menyuarakan suaranya sesuai kehendaknya. Pernah aku pas mau beli kasur karena baru pindah, di toko aku bergumam sendiri, "Aduh mau pilih mana ya Bro?"
Tiba-tiba Tuhan jawab, "Hey, Aku Tuhanmu kok dipanggil Bro."
Karena tidak menyangka Tuhan mendadak jawab begitu, sontak aku ketawa sendiri. Untung aku pakai masker, jadi tak ketahuan sangat aku suka ngomong sendiri dengan Tuhan.
Aku hanya percaya, semua kejadian yang aku alami, bisa dengar seperti itu, semuanya sepenuhnya adalah kuasa Tuhan yang ditunjukkan kepadaku, karena Tuhan Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Bahagiaku adalah jika aku bisa melakukan yang terbaik. Bahagiaku adalah jika aku selalu bisa menjadikan Tuhan sebagai tujuanku. Bahagiaku adalah jika aku bisa selalu dekat dengan Tuhan. Tuhan adalah bahagiaku. Tuhan adalah segalanya bagiku. Aku tidak peduli, tidak apa-apa ada orang yang bilang aku stress , aku gila, hanya karena aku tergila-gila kepada Tuhan.
Ketika ada yang ngatain aku gila. aku tidak marah, aku sama sekali tidak sakit hati, karena aku jadi ingat ayat al quran yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad tidak gila, ketika Nabi Muhammad dikatain gila oleh orang-orang yang tidak percaya kepadanya. Surah At-Takwir ayat 22 berbunyi:
وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ
"Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang yang gila."
Aku terima apa pun tuduhan terhadapku. Aku ikhlas jika kau pikir aku hanya manusia yang tidak baik. Aku tak keberatan jika kau anggap tak ada sedikitpun kebaikanku.
Ya! Semua yang kau tuduhkan kepadaku itu benar, karena aku memang bukan orang baik, karena segala kebaikan adalah kebaikan Tuhan. Maka jika ada kebaikan yang pernah aku lakukan dalam hidupku, itu bukan kebaikanku, melainkan itu semata-mata adalah kebaikan pemberian yang sangat berharga dari Tuhan kepadaku. Jika kau anggap aku penipu dan tak pantas mengatakan kebenaran, kau benar, karena segala kebenaran datangnya dari Tuhan. Maka jika ada perkataanku yang benar, itu bukan datang dariku, tapi datang dari Tuhan.
Don't judge a book by its cover. Jangan menilai orang hanya dari penampilannya, karena penampilan bisa menipu. Dan, jangan menilai orang dari masa lalunya, karena setiap orang mempunyai kapasitas untuk bertumbuh memperbaiki diri.
BAB V
CANDAANKU
Ada yang nanya apa fungsi diciptakannya batu. Aku jawab, “Segala bebatuan itu diciptakan oleh Tuhan tentu sesuai proses terbentuknya seiring waktu. Jangankan batu yang kecil jika dibandingkan dengan planet. Sedangkan planet saja yang besar, mereka awalnya terbentuk dari kumpulan debu. Segala sesuatu yang diciptakan Tuhan pasti ada manfaatnya. Jika kau menanyakan fungsi batu, jika kujawab salah satunya buat nimpuk kamu. Tidak boleh marah ya! Tapi bener kan? Pensil aja bisa aja jika difungsikan buat nulup kamu kok. Maaf bercanda.”
Ada postingan yang membahas tentang ilmuwan yang konon telah menemukan letak Tuhan berada, dengan ilustrasi gambar antariksa. Maka aku jawab, “Manusia hidup berawal dari ketidaktahuan”. Ketika ada pasangan ilegal sedang lupa diri bersembunyi di bawah gudang, tak sadar ada orang yang sedang merekam mereka dari lantai atas gudang. Dan, ketika pasangan itu memperkarakan kehamilan mereka bilang, “Ya sudahlah, kita serahkan kepada yang di atas.” Sontak saja orang yang di atas jawab, “Weh bangsat Lu, enak aja Lu, Gua ga tau apa-apa, Lu bawa-bawa.”
Begitulah kira-kira jika mengira Tuhan itu hanya ada di atas. Maka dia akan menyangka perbuatannya bisa luput dari penglihatan-Nya. Padahal Tuhan adalah dzat yang meliputi segalanya, tak ada sekecil apapun zat yang tak diliputi-Nya. Makanya Tuhan Maha Tahu segalanya.
Semalam, aku nyetrika di atas sampai melewatkan waktu salat magrib. tidak terasa sampai azan isha aku belum salat magrib karena aku merasa tanggung untuk berhenti nyetrika yang tinggal sedikit. Setelah selesai nyetrika, aku berencana turun untuk salat magrib sekalian isya, tapi aku beberes dulu bersihin kamar. Entah kenapa aku dengar seperti suara nafas orang yang sedang tidur terdengar sangat kuat. Aku sampai berhenti nyapu untuk fokus dengerin dan berusaha cari sumber suara, tapi anehnya suara nafas itu seperti berpindah-pindah. Pertama aku dengar suara itu seperti berada di atas kasur. Sampai aku pukulin pakai sapu kasur, kemudian hilang. Terus entah kenapa suara itu seperti berpindah ke depan kamar samping kiri, aku tengok di situ, kemudian suara itu hilang. Tapi sesaat kemudian suara itu timbul lagi, tapi kok seperti dari rumah tetangga. Aku bingung, tapi yo wis lah, wallahu alam. Mungkin gangguan suara itu karena aku melalaikan salat magrib kali ya? Kemudian aku turun salat magrib dan isya. Yang penting aku tidak ninggalin salat magrib, tetep salat meski telat. Aku salatnya setelah azan isya. Astaghfirullah.
Aku tidak merasa punya kemampuan lebih untuk melihat sesuatu yang gaib, tapi aku hanya kadang diperlihatkan atau merasakan sesuatu yang tidak disangka-sangka, seperti ketika aku ikutan pijat ke terapis pijat yang ternyata dibawain air putih untuk balur dan minum dengan bacaan tertentu. Entah kebetulan atau tidak, setelahnya, ketika aku ke luar dari kamar mandi aku lihat ada cewek yang berdiri di depan kamar mandi, tapi aku tidak terlalu perhatikan wajahnya hanya aku lewatin. Kiraan itu Ica, yang mau gantian masuk kamar mandi, jadi aku cuekin. Namun, ketika aku lewat kamar Ica, lah kok Ica lagi tidur di kamar, lantas yang di depan kamar mandi siapa tadi dong? Tapi, aku tengok ke kamar mandi tidak ada orang, ya sudahlah.
Suatu ketika aku iseng ke salon yang ada terapi totok aura. Aku iseng coba terapi, entah kenapa setelahnya ketika aku sentuh seluruh tubuhku tanganku terasa seperti kesetrum. Itu berlangsung cukup lama, akhirnya hilang.
Aku tidak bisa lihat diriku sendiri. Aku tidak tahu seperti apa diriku sebenernya, apakah aku sama dengan yang kulihat di cermin Sedangkan di kamera handphone aku terlihat berbeda-beda.
Aku nyupirin antar nenek-nenek pada pijat. Aku iseng ikutan minta dipijat. Nenek tukang pijat itu sudah tua, tapi kuat mijat sampai lebih dari sepuluh orang sehari. Setiap orang dipijat kira-kira sekitar berdurasi sejam. Dia bilang tidak pakai pegangan ilmu. Tapi kok pulang dari sana, malamnya aku lagi udah mau tidur, aku terasa seperti ada yang pijitin. Itu berlangsung beberapa hari, kemudian hilang. Aapakah itu suatu kebetulan atau emang ada sesuatu? Biarkan hanya Tuhan yang tahu.
Semalam ketika aku ngobrol dengan suara yang ada dihatiku, mungkin sekira jam satu, entah kenapa tiba-tiba dia seperti kaget dan terkesima, entah apa yang dilihatnya. Sesaat setelah itu, aku scroll facebook, aku lihat ada postingan jika telah terjadi gempa yang cukup kuat terasa di Jogja.
Aku sendiri malah tak menyadari jika ada gempa, sampai Ica anakku yang kuliah di Jogja WA, tanya di tempatku terasa ada gempa? Aku jawab tidak terasa. Tapi, setelah aku tanya lagi kepada suara yang ada dihatiku, kenapa tadi terlihat begitu kaget, dia jawab, "Aku lihat umurmu tinggal 4 tahun lagi."
Dalam hatiku aku pasrah. Hidup matiku ada di tangan Tuhan. Yang aku takutkan jika aku mati, aku belum berhasil membukukan makalahku. Aku hanya khawatir, jika aku belum punya ibadah yang bisa menolongku di akhiratku.
Hari ini seru. Aku diajak kawanku minta ditemenin ambil paspor. Berangkat dari rumah sekitar sejam perjalanan. Karena cuma ambil, jadi cepet. Pulangnya kami sepakat mau ke suatu lokasi wisata karena penasaran. Kami belum pernah ke sana, jadi pakai panduan mbah google, mana gerimis tapi kami gas aja. Ternyata medannya tidak mudah atau memang kami yang salah ngikutin instruksi google maps.
Kami tak ada hentinya ketawa ketika diarahkan google maps untuk masuk melalui medan yang meragukan. Masuk ke area persawahan, meniti jalan kecil di tepian sungai yang kalau tidak hati-hati bisa kepleset masuk sungai. Jalan yang harus dilalui dalam google maps gambarnya keriting mirip benang kusut. Aku nyesel kenapa tadi gak aku screenshot. Dan, yang aneh sepanjang jalan sangat jarang ketemu orang, tapi beberapa kali ketemu orang kami tanya tentang obyek wisata itu, mereka sama sekali tak ada yang tahu, katanya tidak ada. Padahal di maps cuma tinggal 37 menit perjalanan saja. Makanya karena kami penasaran tetep aja lanjut cari, waktunya juga tidak lama kok, cuma setengah jam doang nyampe, pikir kami.
Namun, kok aneh ya, kami tetep berusaha ikutin arahan google maps, aku gantian di depan, tapi temenku bilang jangan-jangan di depan itu kuburan. Eh, ternyata emang bener kuburan. Kami ngakak, lah kok malah di maps yang tadinya cuma tinggal 37 menit jadi 40 menit lagi. Lah, ya sudahlah, balik saja. Jadinya kami mampir marung, tidak jadi ke tempat wisata. Habis makan aku dibonceng ngantuk pool, sampai rasanya mau nggeblag. Terpaksa aku berusaha tahan kantuk sampai rumah. Sampai di rumah aku langsung tepar tidur, padahal aku tau aku belum salat zuhur, tapi mataku rasanya tak bisa kompromi. Aku berusaha bangun susah banget. Sudah berusaha melek terus duduk, tapi ketika coba berdiri badanku terasa limbung akhirnya aku tidur lagi sampai asar, baru bisa bangun. Jadinya, aku salat zuhur tapi udah masuk asar. Yang penting tidak ninggalin salat meskipun telat.
Ada kejadian aneh. Ada temen yang singgah main ke rumah. Ketika dia mau salat, meskipun ada dua mukena yang aku dan ibuku pakai, tapi ketika dia mau salat aku ambilkan mukena bersih dari almari untuknya. Sekedar info, dia sebelumnya pernah kecelakaan tunggal ketika naik motor, dia jatuh, prediksi temanku dia kemungkinan jatuh dari motor karena serangan stroke mendadak, dan kemungkinan lain dia jatuh dari motor kemudian gegar otak, karena setelah jatuh, dia lumpuh dan tak sadar. Ingatannya agak lama untuk pulih. Butuh waktu beberapa tahun untuk kembali bisa berjalan normal.
Setelah dia kuantar pulang ke rumahnya. Mukena yang dia pakai tidak langsung aku masukkan mesin cuci, malah mukenaku yang aku masukkan mesin cuci. Tapi entah kenapa, ketika aku pakai mukena bekas yang dipakai temenku, pas salat sampai tidak fokus. Aku bener-bener ngrasa gatal seperti ada banyak kutu kucing atau seperti ada banyak semut lembut yang merayap ke seluruh tubuhku dan gigitin aku di sana sini. Namun, setelah aku selesai salat, aku cek mukenanya tak kutemukan satupun semut atau pun kutu kucing.
Aku buru-buru masukkan ke mesin cuci, dan aku buru-buru mandi, karena aku bener-bener terasa merinding, ngrasa clekat-clekit gatal di sana-sini. Aneh, aku belum pernah mengalami seperti itu sebelumnya. Sepertinya salat itu bisa melepaskan penyakit wajar maupun tak wajar dari seseorang, disadari maupun tak disadari.
Aku masih di Lampung sedang menghadiri udangan temanku yang selamatan aqiqah cucunya, temenku yang kemarin kesasar ndungsak-ndungsak ke sawah cari tempat wisata, udah WA udah pulang belum, mau aku ajak jalan, aku jawab emang mau ajak kemana? eh malah dia jawab ke tempat wisata yang itu lagi. Sepertinya dia masih penasaran, harus sampai ketemu kali.
Meskipun sendirian, aku tak pernah merasa kesepian. Meskipun sekitarku senyap, tapi selalu ada suara orang berbicara di kepala dan telingaku, yang seperti terdengar dari dalam maupun luar negeri, dengan beraneka bahasa, selain ada suara Tuhan juga yang sering mengajak aku bicara, tapi apa pun yang aku dengar selalu aku ucap wallahu alam hanya Tuhan yang tahu kebenarannya, karena aku bukan orang yang diberi keistimewaan untuk mendapatkan vision dari apa pun yang aku dengar, aku tidak tahu pasti apa yang terjadi di luar sana. Aku kadang tertawa sendiri mendengar mereka berbincang, yang kadang beberapa hari setelahnya kadang aku baru tahu jika yang aku dengar itu ternyata benar.
Belum lama ini aku diperdengarkan percakapan dua orang, jika aku perhatikan dari isi pembicaraannya sepertinya mungkin mereka karyawan atau orang yang bekerja di suatu rumah sakit tempat di mana dulu aku mendapatkan penanganan UGD saat peristiwa malam 21 Ramadan tahun 2005 itu. Aku dengar salah satu dari mereka mengatakan, "Oh ini yang dulu itu, inget ga?"
Dan lawan bicaranya mengatakan, "Oh iya, aku inget."
Kebetulan sebelumnya aku pernah juga minta tolong salah satu bekas karyawan rumah sakit sana yang udah pindah ke sini ketika aku terlambat ambil antrean, seharusnya aku tidak bisa dapat nomor antre, tapi berkat bantuannya aku bisa dapet nomor antre dan didampingi sampai kami masuk ke ruang dokter spesialis yang ingin kami kunjungi.
Pernah aku ngakak sejadi-jadinya, ketika aku dengar suara orang berbincang di telingaku, tapi aku tidak tahu mereka siapa. Mereka membahas tentang sesuatu yang agak jorok, salah satu dari mereka berkata
"Dia itu sendirian, jangan mau makan kalau dimasakin terong di rumahnya." Pikiranku jadi traveling.
BAB VI
SAAT TUHAN MEMBAPTISKU
Ketika aku mendengar perkataan Tuhan yang ingin segera aku tuliskan karena aku takut lupa, meskipun aku sedang berkendara, aku pilih meminggirkan kendaraanku untuk segera menuliskannya di handphoneku. Seperti kali ini, aku sedang berkendara sambil berbicara kepada Tuhan, “Aku tak ingin ditinggalkan.”
Tuhan selalu berkata supaya aku tidak khawatir. Namun, kali ini Tuhan menjawab dengan perkataan yang membuat aku ingin segera menuliskannya supaya aku tidak lupa. Tuhan berkata supaya aku harus selalu ingat bahwa aku selalu bersama-Nya. Dan, kali ini Tuhan mengatakan, "Aku akan melebur denganmu." Membuat aku berpikir apa maksudnya. Semoga Tuhan ikhlas dengan apapun yang baik yang Tuhan janjikan padaku. Amin. Jika aku cari di google makna kata melebur, yaitu jadi satu denganmu.
Aku diperlihatkan jaringan darahku, dan Tuhan mengatakan, "Aku menyatu denganmu dalam darahmu." Aku tetap positif thinking, karena aku tahu bahwa Tuhan adalah dzat yang meliputi segalanya. Namun, aku menyadari kelemahanku. Aku tak selalu bisa sebaik yang seharusnya. Makanya aku takut jika ditinggalkan suara Tuhan, sedangkan aku tak ingin suara Tuhan meninggalkanku. Aku ingin suara Tuhan selalu bersamaku selamanya.
Tuhan selalu mengatakan kepadaku supaya tidak membanggakan pencapaianku. Aku sering mengeluh karena merasa bodoh, tidak bisa menulis dengan baik. Aku tak merasa mudah menjabarkan dengan baik semua pengetahuan yang Tuhan berikan kepadaku. Tapi, Tuhan selalu mengatakan jika aku akan bisa melakukannya. Insyaallah. Amin.
Pesan Tuhan padaku, “Percayalah, Tuhan sudah mempersiapkan yang terbaik untukmu. Kau pantas bahagia. Kau orang yang istimewa, jenius, berbakat, sangat cepat paham berbagai bahasa, baik, lembut, emosimu stabil, bijaksana, jujur, sabar, kuat, dan punya iman yang baik. Kau pendiam karena kau menyimpan ilham ber tera giga bait kosa kata. Semua rasa senang, sedih, cinta, harap, dan kecewa tertuang sebagai karya yang memukau pembacanya. Jangan ragu untuk melangkahkan kakimu hanya menuju cahaya. Teruslah jemarimu laksana tinta emas yang selalu merangkai kata indah memesona.”
Allah berkata kepadaku, "Sri, kamu sadar ga? Kamu itu nabi sayang!"
Aku hanya bisa jawab, “Alhamdulillah, insyaallah, amin.”
Aku nabi, bukan dukun ataupun paranormal yang punya ilmu untuk bisa melihat yang tersembunyi. Aku bisa mendengar dan berkomunikasi dengan Tuhan, tapi Tuhan tidak menginginkan aku menjadi orang yang takabur, karena aku hanya bisa bergantung kepada-Nya. Tuhan juga menginginkan aku untuk selalu berpikir dan berprasangka positif dari apa pun informasi sekalipun informasi yang aku dengar sendiri dari Tuhan. Aku tetap harus berusaha mencernanya, mencari dan menunggu datangnya bukti yang menunjukkan kebenarannya.
Semua seperti sudah diatur dengan sempurna oleh Allah. Jika dilihat tanggal pertemuanku dengan Tuhan, angkanya tak sengaja terlihat indah sangat rapi teratur. Susunan nomor cantik, tanggal 20 malam 21 Ramadhan 1426 Hijriah atau tanggal 25 malam 26 Oktober 2005 Masehi. Dan, tanggal kelahiranku pun tepat tanggal 1 Maulud 1392 Hijriah atau tanggal kelahiran Nabi.
Hari itu tanggal 20 malam 21 Ramadan, tepatnya ketika aku salat sunah taubat, tahajud, hajat, witir pada jam 23.30 pada 20 tahun lalu adalah pengalamanku ketika aku mengalami peristiwa malam awal perjumpaanku dengan Tuhan. Ternyata itulah pengalaman mendapatkan malam lailatulqadar malam seribu bulan. Malam nanti adalah tepat 20 tahun umurku sebagai Sri Maharani.
Dalam agama umat Nasrani, ada ritual pembatisan dilakukan dengan cara ditenggelamkan ke dalam air yang dimaksudkan untuk ritual pertaubatan atau pensucian diri dengan doa yang dituntun oleh pendeta terhadap jemaatnya, kemudian diberi nama babtis yang diibaratkan bagaikan terlahir kembali menjadi sosok baru yang lebih baik, yang telah disucikan dari dosa.
Ritual itu mirip dengan pengalamanku dalam perjumpaanku dengan Tuhan. Itu terjadi pada bulan Ramadan tahun 2005. Aku mengalami ditenggelamkan oleh Allah ke dalam air gaib yang terasa sangat nyata, merasa benar-benar basah sekujur tubuh. Aku juga dikasih nama baru. Aku sangat ingat ketika Tuhan memperkenalkan diri dengan memperdengarkan suara-Nya Yang Maha Agung.
"Aku Allah taala, kau sudah kumatikan, kau sudah kuampuni, sekarang hiduplah kau dengan jiwa yang suci, dan kau kuberi nama Sri Maharani."
Dalam perjumpaanku dengan Tuhan, aku jadi tahu bagaimana Tuhan memperlakukan para rasul terdahulu, karena Tuhan telah mempertemukan aku dengan semua malaikat dan mengizinkan aku bisa berbincang dengan mereka, terutama dengan malaikat Jibril yang kadang diizinkan berada di tanganku. Tuhan membuat tanganku bergerak sendiri menuliskan apa pun yang Tuhan katakan, dari perkataan yang serius maupun yang tidak.
Tuhan tidak selalu segera menjawab semua pertanyaanku dengan sempurna, melainkan segala jawaban selalu ada prosesnya. Segala kesempurnaan adalah milik Tuhan, sedangkan aku hanya manusia biasa yang tak sempurna, yang punya segala kekurangan dan keterbatasan. Dan, Tuhan lebih mengenalku dari pada diriku mengenal diriku sendiri.
Semua nabi pasti mengalami hal yang sama seperti yang kualami dalam perjumpaan dengan Tuhan. Begitu juga Nabi Isa, ternyata Sa'ad bin Alrabi bin Amr, itu adalah nama pemberian Allah kepada Nabi Isa setelah bangkit dari kematian pertamanya. Sa'ad yang berarti sayid atau tuan yang terhormat yang datang kembali (bangkit dan hidup kembali) bin Alrabi (Tuhan) artinya Isa diakui oleh Tuhan sebagai anak Tuhan. Manusia yang diciptakan dan diberikan Tuhan kepada Maryam bin Amr (Ratu) Maryam dianggap atau diakui oleh Tuhan sebagai ratu. Sehingga dijadikan sebagai nama negara Sa'ad Alrabi menjadi Sa'dy 'Arabiyat.
BAB VII
MAKALAHKU TENTANG PLASENTA NABI ISA
Karena makalah yang aku tulis tentang Tuhan dan perjalanan spiritual, aku hanya berniat membukukan semua pemahaman dan pengalaman yang aku dapatkan setelah perjumpaanku dengan Tuhan, minimal untuk diriku sendiri. Aku tak ingin mengklaim bahwa aku harus diakui sebagai apa pun. Aku juga tak ingin mengklaim bahwa aku paling benar, karena hanya Tuhan yang maha benar.
Aku tak pernah ingin memaksa orang yang membaca tulisanku untuk harus percaya kepadaku, karena aku menghargai setiap orang tidak semua selalu bisa sepemikiran. Ada narasi yang mengatakan bahwa percaya kepada jawaban yang didapat dari pengalaman nyata itu bukan kebenaran, melainkan pembenaran atau menyesatkan, katanya. Karena hanya mengikuti narasi yang sudah ada itu adalah narasi sesat. Karena jawaban yang didapat dari pengalaman adalah nyata kebenaran yang didapat dari pengalaman pribadi bukan hanya sekadar mempercayai informasi yang didapat dari orang lain. Sedangkan setiap orang berhak memeluk agama masing-masing karena setiap orang berhak menganggap pengetahuan dan informasi yang dia dapatkan atau diajarkan dari guru atau orang tuanya harus diyakininya sebagai kebenaran. Cukup hanya harus meyakininya sebagai kebenaran, dan harus mengikuti ajarannya. Bukan yang tahu pasti dari pengalamannya sendiri. Contohnya, jika kau katanya tahu tentang Allah, apakah kau sudah bener-bener tahu hingga kau sudah pernah berjumpa dengan-Nya? Maka orang yang pernah nyata mengalami perjumpaan dengan Tuhan pastilah mengatakan itu sebagai kebenaran bukan pembenaran atau penyesatan.
Banyak yang mengatakan kenapa yang aku bahas malah Nabi Isa, bukan Nabi Muhammad? Kebanyakan orang Islam fanatik, dan menganggap Nabi Muhammad itulah Nabi yang harus dimuliakan dibanding nabi lain, padahal kisah kelahiran Nabi Isa jelas tertulis dalam Alquran, jika orang Islam menganggap Alquran sebagai kitab sucinya yang dipercaya dari Tuhan kenapa malah banyak orang Islam yang menghina Nabi Isa padahal banyak kisah Nabi Isa tertulis dalam Alquran. Padahal tidak ada nabi lain selain Nabi Isa yang proses kelahirannya ada yang dikisahkan sedetail itu, berikut tempat kelahirannya disebutkan sejelas itu dalam Alquran.
Surat Al-Baqarah ayat 138:
صِبْغَةَ اللّٰهِۚ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ صِبْغَةًۖ وَّنَحْنُ لَهٗ عٰبِدُوْنَ ١٣٨
Artinya:
Sibgah dari Allah. Siapa yang lebih baik sibgah-nya daripada sibgah Allah?
Hanya kepada-Nya kami menyembah.
Sibgah adalah proses pewarnaan sesuatu dengan cara direndam atau dicelupkan ke dalam cairan.
Penjelasan ilmiah tentang proses mumifikasi alami yang terjadi pada plasenta Nabi Isa. Proses mumifikasi yang terjadi pada plasenta Nabi Isa karena terendam dalam sumur di dalam gua. Mengenai mumifikasi alami jenazah yang ditemukan terendam dalam sumur tertutup di dalam gua. Hal ini merujuk pada penemuan arkeologis nyata. Mumifikasi alami ini terjadi karena kondisi lingkungan gua yang spesifik dan unik, yaitu kombinasi ketiadaan oksigen (anoksik) dan air yang sangat dingin.
Kombinasi faktor-faktor ini secara efektif menghentikan proses pembusukan alami yang biasanya terjadi setelah kematian. Bakteri dan mikroorganisme yang bertanggung jawab atas dekomposisi tidak dapat bertahan hidup atau berkembang biak tanpa oksigen yang cukup dan pada suhu rendah. Akibatnya, jaringan lunak jenazah, termasuk kulit dan organ, terawetkan secara luar biasa selama ratusan tahun.
Fenomena ini adalah contoh langka dari bagaimana kondisi lingkungan tertentu dapat berfungsi sebagai agen pengawet alami yang kuat, bahkan tanpa adanya campur tangan manusia atau bahan kimia buatan. Penemuan semacam ini memberikan wawasan berharga bagi para arkeolog dan ilmuwan tentang kehidupan dan kematian di masa lalu.
Proses mumifikasi pada plasenta Nabi Isa yang sesaat setelah Maryam melahirkan Isa, kemudian plasenta Isa dihanyutkan ke sungai kecil yang mengalir dari sumber mata air sumur zam zam di dasar gua tempatnya melahirkan. Aliran sungai kecil itu mengalir melingkar di dasar gua, yang kemudian aliran sungai tersebut kembali bermuara ke dalam sumur zam zam tersebut, sehingga setelah plasenta Isa dihanyutkan ke dalam sungai kecil tersebut, maka plasenta Isa kemudian masuk dan terjebak dan terendam di dalam sumur zam zam itu selama berabad abad, karena terendam dalam air dalam gua yang membuat plasenta Isa terhindar dari proses pembusukan, yaitu mengalami proses adipocere, yaitu karena lingkungan yang hangat, basah, tanpa oksigen, enzim dan bakteri sehingga plasenta terawetkan, karena pada dasarnya pembusukannya digantikan oleh jaringan lemak permanen yang ada pada organ internal, sehingga plasenta terapung dan terawetkan secara alami, tergantung jangka waktu lamanya terawetkannya, dia akan berubah warna menjadi coklat, putih, keabuan, atau hitam. Makanya ada ritual tawaf atau berputar mengelilingi kabah, itu pada dasarnya untuk menggambarkan tentang sejarah air zam zam dan hajar aswad.
Rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia (Maryam) berkata, “Oh, seandainya aku mati sebelum ini dan menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan (selama-lamanya).”
فَنَادٰىهَا مِنْ تَحْتِهَآ اَلَّا تَحْزَنِيْ قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا ٢٤
Dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, “Janganlah engkau bersedih. Sungguh, Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu”.
وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّاۖ ٢٥
Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu.
Surah maryam 23 s.d. 25 menceritakan ketika Maryam melahirkan Nabi Isa, di mana lokasinya tersembunyi, digambarkan di gua (lokasi di sekitar kabah) yang ditumbuhi pohon kurma yang daun dan buahnya menutupi pintu gua, dan di dasar gua terdapat sungai kecil yang berasal dari sumber air sumur zam zam yang mengalir melingkar sedemikian rupa sehingga aliran sungai kecil itu mengalir kembali ke sumur zam zam sehingga menimbulkan ada pusaran kecil di bibir sumber air tersebut, yang membuat plasenta Nabi Isa ketika dihanyutkan ke sungai kecil itu maka masuk dan tersimpan di dalam sumur zam zam itu selama berabad-abad sehingga termumifikasi secara alami berubah menjadi batu hitam, yang kemudian dikenal sebagai hajar aswad.
BAB VIII
MAKALAHKU TENTANG SIDRATUL MUNTAHA
Pengalamanku saat aku diajak Tuhan untuk melihat lapisan-lapisan langit. Aku diperlihatkan di langit pertama aku melihat orang yang tinggi banget sampai kepalanya menembus langit kedua, tapi aku tidak menanyakan siapa dia. Hanya takjub dan tidak bisa berkata apa-apa.
Di pencarian google ditemukan jawaban bahwa peristiwa Isra Mikraj (Nabi Muhammad mengalami perjalanan gaib ke tingkatan-tingkatan langit dan berjumpa dengan para nabi di setiap tingkatannya). Terjadi pada tahun 620-621 Masehi. Wallahu alam. Hanya Tuhan yang tahu kebenarannya.
Informasi dari Allah yang kudapat, Allah berkata bahwa Nabi Isa ditidur panjangkan selama 309 tahun di Gua Kahfi ketika Isa berumur 300 tahun, maka berarti kira-kira Nabi Isa terbangun dari tidur panjangnya sekitar tahun 609 Masehi. Sedangkan peristiwa Isra Mikraj yang dialami Nabi Muhammad itu terjadi ketika Nabi Isa masih belum terbangun, jiwanya masih terjebak dunia gaib yang digambarkan berada di lapisan-lapisan lagit. Makanya ada hadist yang mengatakan Nabi Isa akan turun dari lagit. Itu adalah hadist ketika Nabi Isa belum terbangun dari Gua Kahfi.
Jika Nabi Isa terbangun tahun 609 Masehi, berarti peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad kemungkinan terjadi sekitar tahun 609, sebelum Nabi Isa bangun. Itu adalah pertemuan Nabi Muhammad dan Nabi Isa yang pertama kali, yaitu pada pengalamannya dalam perjalananya ke tingkatan langit, dan baru kira-kira tahun 611 atau 612 Masehi, Nabi Muhammad bertemu secara fisik dengan Nabi Isa, setelah Isa bangun dari Gua Kahfi dan kembali menjalani hidupnya. Bahkan perjalanan ke Masjidil Aqsha dan lain-lain tanpa ada yang mengenalnya dengan nama pemberian Tuhan yang berbeda.
Pada dasarnya Masjid Baiat itu memberikan penjelasan tentang sejarah perintah salat. Selain mengandung makna menjelaskan tentang kebenaran kisah kenaikan Isa Almasih, juga menjelaskan tentang pengalaman perjalanan gaib yang dialami Nabi Muhammad tentang Isra Mikraj. Makanya Masjid Baiat dibangun tanpa atap untuk menggambarkan peristiwa ketika Nabi Muhammad mengalami perjalanan ke tingkatan-tingkatan langit, dan dipertemukan dengan para Nabi disetiap tingkatnya, yaitu Nabi Adam, Nabi Isa, Nabi Yahya, Nabi Yusup, Nabi Harun, Nabi Musa, Nabi Idris, Nabi Ibrahim dan lain-lain.
Dalam peristiwa itu, Nabi Muhammad mulai menerima ajaran tentang salat dan mendapatkan pengalaman salat berjamaah dengan mereka, dengan para nabi yang dijumpainya dalam peristiwa itu. Berawal dari peristiwa itulah maka mulai diajarkan tata cara dan jadwal pelaksanaan waktu salat. Tentunya semua itu tidak hanya terjadi sekali saja melainkan memerlukan waktu dan selalu ada prosesnya.
Pada dasarnya yatsrib berasal dari kata
تسرب = kebocoran atau transmisi kriptik. Pada dasarnya yang digambarkan pada Masjid Baiat adalah menceritakan kisah Nabi Muhammad yang telah mengalami perjalanan lintas dimensi, dipertemukan dan salat berjama'ah dengan para nabi yang lain seperti berada diantara dunia nyata dan dunia gaib. Bukan berarti terbang ke atas langit, tetap di tempat, tapi Tuhan menunjukkan kuasanya mengizinkan nabi seperti merasakan perjalanan naik ke langit.
Ketika aku ketik Nabi Muhammad diangkat jadi nabi tahun berapa, di google pencarian, aku temukan angka 611 Masehi. Angka tahun yang sama dengan perhitungan yang aku perkirakan tentang tahun dimana kemungkinan Nabi Muhammad dan Nabi Isa, dan nabi-nabi lainnya berjumpa secara fisik (pertemuan yang kedua), setelah sebelumnya Nabi Muhammad berjumpa dengan mereka (para nabi) ketika Nabi Muhammad mengalami peristiwa Isra Mikraj (perjalan ke lapisan langit) sedangkan jiwa merrka masih berada di dunia lain (609 Masehi). Dan, tentunya secara fisik Nabi Muhammad tidak bertemu lagi dengan Nabi Adam, karena Nabi Adam sudah wafat jauh sebelum ketika Nabi Isa, Nabi Ibrahim, Nabi Yusup, Nabi Yahya, Nabi Harun, Nabi Musa, Nabi Idris masih tertidur panjang di gua kahfi.
Dalam perjumpaan dengan Tuhan, aku jadi paham bagaimana Tuhan memperlakukan para nabi dulu. Salah satunya aku jadi paham tentang peristiwa Isra Mikraj yang dialami Nabi Muhammad, karena Tuhan juga memperlakukan hal yang sama kepadaku seperti pengalaman Nabi Muhammad tentang Isra Mikraj.
Perjalanan Isra Mikraj adalah peristiwa yang dialami oleh nabi bukan secara fisik, melainkan Tuhan dengan kuasanya memperlihatkan seolah Muhammad naik ke langit dan di setiap tingkat lapisan langit Tuhan seolah mempertemukan dengan siapapun yang dikehendaki-Nya, dan dalam peristiwa perjalanan Isra Mikraj itulah Tuhan mengajarkan kepada Muhammad tentang tata cara salat dan memerintahkan Muhammad untuk melakukan dan mengajarkan salat kepada yang mau percaya dan mau mengikutinya.
Ibadah salat yang diajarkan kepada Muhammad adalah menyempurnakan tata cara salat yang diajarkan Tuhan kepada Ibrahim dan nabi sebelumnya. Aku katakan seolah, karena Nabi Muhammad tidaklah naik ke langit secara fisik maupun rohnya, tetap di tempat, melainkan hanya diperlihatkan saja seperti melihat video / tampilan gambar bergerak / visual gambar hologram dalam keadaan melihatnya nyata dan sadar (bukan mimpi).
Makanya Masjid Baiat dibuat tanpa atap untuk menggambarkan peristiwa itu. Seperti yang pernah kualami, Tuhan memperdengarkan suara mengatakan kepadaku, "Aku akan mengajakmu naik ke langit pertama,” kemudian terdengar suara keras seperti kerekan besi besar untuk mengangkut ke atas dan diperlihatkan apapun yang Tuhan kehendaki untuk diperlihatkannya, kemudian diajak lagi naik ke langit kedua, dan seterusnya dengan diawali suara yang sama. Segala puji adalah kepunyaan Tuhan. Alhamdulillaah”.
Surah Maryam ayat 33
وَٱلسَّلَٰمُ عَلَىَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا
Artinya: "Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku (Nabi Isa), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali."
Dari ayat tersebut jelas dituliskan tentang doa dan harapan Nabi Isa. Beliau mengharapkan semoga Tuhan memberikan kedamaian, kesejahteraan pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.
Pada dasarnya arti kesejahteraan dalam bahasa arab adalah
رعاية reaya, dan tanpa disadari seluruh dunia menjadikan hari lahir Nabi Isa sebagai hari raya, yaitu hari tasyrik yang di rayakan oleh umat Islam. Tasyriku = terbit / bersinar dalam perayaan hari raya Idul Adha yang bertepatan pada tanggal 11 Dzulhijah. Hari natal yang dirayakan oleh umat nasrani, yaitu bertepatan pada tanggal 25 Desember, hari wafatnya Nabi Isa, yaitu bertepatan pada tanggal 14 April atau tanggal 9 Dzulhijah. Pada hari Nabi Isa dibangkitkan hidup kembali, yaitu tanggal 1 Muharam yang dijadikan tahun baru Hijriah. pada kalender Hijriah ada yang disebut sebagai bulan Safar = nol / Shafar = perjalanan, yaitu perjalanan Nabi Isa, seperti mulai dari nol lagi setelah dihidupkan kembali setelah kematian pertama atau mati suri karena disalib.
Tentang Sidratul Muntaha sesuai pemahaman dan pengalamanku. Sidratul Muntaha merupakan pencapaian tertinggi pada diri seseorang, yaitu ketika seseorang telah mengalami perjumpaan dengan Yang Maha Tinggi karena telah mencapai titik puncak dalam perjalanan spiritualnya mencari Tuhan.
Sedangkan pengalamanku tentang Sidratul Muntaha, yaitu ketika suatu malam aku bermimpi. Dalam mimpi itu aku melihat diriku sedang melakukan perjalanan sendirian di dalam perjalanan yang tak mudah, kadang aku berjalan dengan pelan, kadang berlari kecil, tapi kadang juga seperti terasa ringan sampai terlihat langkahku bagaikan terbang, yang sampai akhirnya aku tiba di suatu tempat yang amat tinggi dan sangat terjal, dan tempat itu terasa hampir sangat mustahil karena sangat sulit untuk dicapai.
Ketika sampai di puncak itu, aku merasakan diriku seperti ada kekuatan Tuhan yang membawaku sampai di sana, karena aku menyadari aku tak mungkin bisa sampai ke titik itu jika bukan karena kuasa Allah. Kemudian aku mendengar suara Tuhan mengatakan kepadaku, "Sri, sekarang kamu sudah berada di Sidratul Muntaha."
Sampai aku bangun tidur kemudian salat tahajud, aku masih bingung, apa itu Sidratul Muntaha? Sampai akhirnya aku menelpon Bulikku yang pernah tinggal di Suriyah karena ikut suaminya yang 36 tahun tugas di sana. Tapi, waktu itu aku lupa Bulikku jawabnya apa. Namun, aku merasa tidak puas dengan jawaban Bulikku sehingga aku cari surah Alquran yang membahas tentang Sidratul Muntaha.
Ada juga yang mengatakan bahwa jika kau tidak percaya tentang lapisan langit maka berarti kau tidak percaya dengan kisah Nabi Muhammad yang berada di Sidratul Muntaha, dan Isra' Mi'raj yang konteks dalam hal ini berkaitan dengan pendapat tentang keberadaan Tuhan yang katanya berada di atas langit ke tujuh.
Maka aku jawab, “Semua kisah nabi yang tertulis dalam Alquran adalah tentang kisah perjalanan hidup para nabi dalam pengalamannya berjumpa dengan Tuhan, dan siapapun yang membaca kisah mereka belum tentu bisa benar-benar percaya, paham, dan mengerti jika belum pernah mengalaminya sendiri.”
Ada yang mengatakan katanya Tuhan berada di atas langit ke tujuh. Padahal Tuhan tidak hanya berada di atas langit, karena Tuhan adalah dzat yang meliputi segalanya. Dan, dikatakan Tuhan berada di atas Arsy. Pada dasarnya Arsy itu artinya singgasana. Berarti Tuhan adalah raja, dan segala yang diciptakannya adalah singgasana-Nya.
BAB IX
AKU DIVONIS PENISTA DAN GILA
Aku tidak pernah membayangkan dua makalah yang kutulis dalam sunyi bersama Tuhan menjadi perkara hukum, lalu menjadi perkara kejiwaan. Makalah pertama membahas tentang plasenta Nabi Isa. Aku menuliskannya sebagai pernyataan diri atas pengetahuan yang diberikan Tuhan. Mulanya, aku tertarik pada bagaimana benda-benda suci sering kali dikaitkan dengan kelahiran, rahim, dan asal mula kehidupan. Dalam banyak peradaban kuno, plasenta dipandang sebagai saksi pertama kehidupan, disimpan, dikubur, atau disucikan. Seperti plasenta Nabi Isa yang tersimpan di dalam sumur zam-zam yang berada pada sebuah gua.
Dari sana lahir hipotesisku yang kemudian menjadi bencana, bahwa hajar aswad, dalam lapisan makna terdalamnya merupakan mumifikasi dari plasenta Isa. Ini dapat dimaknai sebagai lambang kelahiran suci, bahkan kubayangkan, dalam bahasa metafora, sebagai “jejak kehidupan” yang dikaitkan dengan figur suci lintas iman, yaitu Nabi Isa.
Makalah kedua bahkan lebih personal. Aku menulis tentang perjalananku bertemu Allah di sidratul muntaha, bukan sebagai perjalanan fisik, tapi dalam mimpi. Aku menegaskan, ini adalah pengalaman batin, pengalaman kesadaran, yang kupahami melalui bahasa Isra Mikraj Nabi Muhammad. Aku tahu, bahasa manusia terbatas, maka aku meminjam bahasa Tuhan untuk menamai apa yang tak bernama.
Aku menulis tentang keheningan, tentang batas terakhir pemahaman, tentang rasa “mengetahui semuanya” tanpa melihat, hanya dari mendengar suara Tuhan. Aku menulis sebagai manusia yang mencoba jujur pada pengalamannya sendiri, dan sebagai manusia yang tahu perbedaan antara iman, pengalaman, dan tafsir.
Namun, dunia tidak tertarik pengetahuanku itu. Yang mereka butuhkan hanyalah satu kata, penistaan. Aku dipanggil, diperiksa, diadili. Di ruang sidang, makalahku dibacakan seperti daftar pelanggaran, bukan sebagai teks yang utuh. Kata “plasenta” diucapkan dengan nada jijik. Kata “sidratul muntaha” diperlakukan seperti klaim berbahaya. Tak ada yang bertanya mengapa aku menulis. Tak ada yang ingin tahu bagaimana aku beriman.
Aku mencoba menjelaskan bahwa pengalaman batin bukan wahyu, bahwa bertanya tidak selalu berarti menghina. Tapi, ruang itu tidak disiapkan untuk penjelasan. Ruang itu hanya mengenal dua posisi, patuh atau sesat. Makalahku tidak lagi disebut makalah. Ia disebut pengakuan sesat. Aku dipanggil, diperiksa, ditanyai dengan nada yang tidak mencari penjelasan, melainkan pengakuan bersalah. Aku diminta menyangkal bukan hanya tulisanku, tetapi juga pengalamanku sendiri.
“Apakah kamu menyamakan dirimu dengan Nabi?”
“Apakah kamu mengaku bertemu Allah?”
“Apakah kamu sadar ini penistaan?”
Aku mencoba menjelaskan bahwa iman bukan hanya hukum, tetapi juga pengalaman. Bahwa tasawuf, sejarah Islam, dan perjalanan para sufi penuh dengan bahasa simbolik tentang kedekatan dengan Tuhan. Bahwa aku tidak mengklaim apa pun selain kejujuran pada apa yang kualami.
Aku kembali mengingat sidratul muntaha. Bukan sebagai tempat, melainkan sebagai keadaan, saat manusia berhenti ingin diakui, dan hanya ingin jujur di hadapan Tuhan. Aku bertanya pada diriku sendiri, “Sejak kapan pengalaman batin dianggap ancaman? Sejak kapan Tuhan harus dijaga dengan penjara, bukan dengan kebijaksanaan?”
Aku tidak berhenti beriman. Aku hanya berhenti menjelaskan. Karena aku sadar, yang paling ditakuti bukanlah aku, bukan makalahku, bukan pengalamanku. Yang ditakuti adalah kemungkinan bahwa Tuhan bisa ditemui dalam keheningan pribadi, tanpa perantara kemarahan, tanpa label benar dan salah yang mudah.
Lalu datang jalan keluar yang tidak pernah kupikirkan. Aku dikirim ke rumah sakit jiwa. Pemeriksaan berlangsung tenang, terlalu tenang. Aku ditanya tentang keyakinanku, tentang pengalaman batinku, tentang mengapa aku menghubungkan simbol dengan tubuh dan kesucian. Aku menjawab jujur. Dan, kejujuran itu rupanya cukup untuk diagnosis.
Dokter menulis dengan rapi, “Gangguan keyakinan religius, kecenderungan delusional, penafsiran simbolik berlebihan.” Aku membaca kalimat itu berkali-kali. Ada ironi yang dingin di sana. Hal-hal yang selama berabad-abad hidup dalam tasawuf, filsafat, dan sastra keagamaan, kini diberi nama penyakit.
Di ruang sidang, hakim membacakan keputusan dengan nada lega. Aku tidak dijatuhi hukuman penjara karena dinyatakan tidak bertanggung jawab secara hukum. Aku dibebaskan, bukan karena aku benar, bukan karena makalahku dipahami, melainkan karena aku dianggap gila..
Aku melihat wajah-wajah di ruang itu berubah. Kemarahan menguap, digantikan rasa aman. Orang gila tidak berbahaya. Orang gila tidak perlu dibantah. Orang gila tidak perlu didengar. Itulah harga kebebasanku.
Di luar gedung pengadilan, aku berjalan sendiri. Tidak ada yang menyalamiku. Tidak ada yang meminta maaf. Namaku kini bersih secara hukum, tapi rusak secara sosial. Aku bukan lagi penista, aku hanya seseorang yang pikirannya dianggap tak layak dipercaya. Orang-orang memvonis aku sebagai penyintas gangguan jiwa yang berusaha bertahan hidup dengan kondisi sebagai orang dengan gangguan jiwa atau orang berusaha bangkit setelah mengalami gangguan jiwa. Ironisnya, aku tidak merasa gila. Aku merasa jernih.
Waktu terus berjalan. Orang-orang sebagian berhenti bertanya. Sebagian lagi tetap menghakimi. Namun, di dalam diriku menemukan ketenangan yang aneh, sebuah keyakinan bahwa kebenaran manusia tak selalu sejalan dengan kebenaran Tuhan. Aku tetap ingin mengatakan bahwa makalah yang kutulis adalah kebenaran yang datangnya dari Tuhan.
Aku tetap berdoa. tetap percaya, tetap menulis, meski hanya untuk diriku sendiri. Aku belajar bahwa di dunia ini, ada batas yang tak tertulis, simbol boleh disembah, tapi jangan dibaca, pengalaman boleh dirayakan, tapi jangan diceritakan, iman boleh hidup, asal tidak berpikir terlalu jauh. Jika dunia membutuhkan aku gila agar tetap tenang, biarlah. Aku akan menyimpan kewarasanku di tempat yang tak bisa mereka jangkau, di antara sunyi, doa, dan kata-kata yang tak lagi kupublikasikan.
“Mereka Kau biarkan khilaf, ya Allah,” batinku. “Tapi, aku tidak pernah membenci-Mu,” ucapku.
Tuhan malah menjawab, “Aku rindu membaca makalahmu, Sri.”
“Terima kasih, Tuhan, akan kutulis makalahku atas izin-Mu.”
BAB X
MAKALAHKU TENTANG IMAM MAHDI
Banyak orang keblinger berambisi untuk melabelkan diri sebagai imam mahdi, supaya dianggap sebagai tokoh dunia yang dianggap tinggi mulia, sebagai orang hebat pilihan Tuhan, sehingga ingin mendapat pengakuan dunia supaya semua harus mau tunduk pada perintah dan kekuasaannya sesuai kemauannya dengan menganggap baik segala kejahatan yang dilakukannya. Padahal yang bergelar imam mahdi hanyalah Nabi Isa, meskipun Nabi Isa tidak pernah gembar gembor memaksa orang harus mengakuinya, tapi itulah takdir dan ketentuann yang telah diberikan Tuhan untuk Nabi Isa.
Tidak ada imam mahdi kecuali Nabi Isa! Tidak ada selain Nabi Isa Almasih yang kisah dan namanya dijadikan nama kalender yang dijadikan pedoman di seluruh dunia, yaitu nama kalender Masehi atau Al Masihi adalah gelar Nabi Isa, yaitu Isa Almasih. Dan, urutan nama bulan dalam kalender Hijriah juga merupakan kisah Nabi Isa. Perjalanan ibadah haji, tawaf, lempar jumrah, dan lainnya juga sebenarnya mengkisahkan sejarah Nabi Isa. Bahkan tanpa disadari, batu hajar aswad juga merupakan fosil plasenta Nabi Isa.
Pada dasarnya tawaf adalah menggambarkan perputaran aliran air sungai di dalam gua yang bermuara pada sumur zam zam, tempat plasenta Nabi Isa berada. Pelaksanaan lempar jumrah pada tanggal 10 Dzulhijah bermakna mengakui kebesaran Tuhan dengan bertakbir tujuh kali setiap pelaksanaannya. Takbir tujuh kali mengingatkan jumlah hari dalam seminggu. Artinya, kita setiap hari hendaknya selalu menginggat dan mengakui kebesaran Tuhan, dan menyatakan perlawanan atau penolakan terhadap ketakutan dari segala ketidakadilan. Makna yang tersembunyi dibalik pelaksanaan lempar jumrah aqabah adalah perlawanan atas kekejaman yang diberikan oleh ulama Yahudi kuno kepada Nabi Isa yang mati dihukum salib.
Hari tasyrik adalah hari kelahiran Nabi Isa. Bahkan tanggal 9 Dzulhijah adalah hari kematian Nabi Isa yang pertama, yaitu mati suri karena disalib. Baca surat Maryam 33, dan surat Ali Imran 45. Maka jangan ada yang bermimpi bergelar imam mahdi karena yang dijadikan imam mahdi atau pedoman petunjuk tertinggi di dunia ini tentang peribadatan dan ilmu ketuhanan adalah Nabi Isa.
Hanya Nabi Isa yang kisah kelahirannya tercatat dalam Alquran. Idul Adha atau hari raya kurban adalah untuk memperingati kisah Nabi Isa yang pernah jadi korban penghakiman dianiaya dan dihukum mati disalib karena masalah keyakinan. Perayaan Isra Mirkaj 27 Rajab juga sebenarnya untuk memperingati hari perjalanan Maryam dari Masjidil Haram (tempat melahirkan Isa) ke Masjidil Aqsha (tempat tinggal Maryam dengan keluarga Zakariya).
Imam mahdi adalah Nabi Isa. Imam adalah pemimpin yang tertinggi kedudukannya. Almahdi artinya orang terkasih pilihan Tuhan yang telah membimbing dan menunjukkan kepada Tuhan dan kebenaran. Almasih adalah julukan bagi Nabi Isa yang berarti yang diurapi atau dinobatkan atau dibaiat atau diangkat atau ditinggikan nama dan kedudukanya, dan diakui dunia. Sehingga julukannya itu diabadikan sebagai nama pada penanggalan atau kalender yang dipakai di seluruh dunia dengan perhitungan yang dimulai dari tahun lahirnya Nabi Isa yaitu tahun 01 Masihi yang berasal dari kata Almasih
Dalam Alquran surat alkahfi tertulis kisah beberapa pemuda yang ditidurkan selama 309 tahun di dalam Gua Kahfi. Itu adalah kejadian luar biasa istimewa yang tidak mungkin dialami oleh orang yang biasa yang bukan siapa-siapa, pastilah dialami oleh orang yang istimewa. Tuhan membuat kejadian seluar biasa istimewa itu tidak mungkin tidak ada apa-apanya selain ada tujuan yang istimewa untuk memperlihatkan kuasa-Nya.
Salah satu pemuda itu adalah Nabi Isa, dan beberapa nabi lain termasuk Nabi Yusup, Ibrahim dan lain-lain. Mereka ditidurkan selama 309 tahun, ketika Nabi Isa berumur 300 tahun, dan terbangun 309 tahun kemudian, yaitu tahun 609 Masehi, tujuannya adalah supaya mereka menjadi saksi, menyaksikan sendiri plasenta Nabi Isa yang terendam di dalam sumur zam zam telah membatu menjadi fosil batu hitam atau hajar aswad.
Ada yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad menyebutkan ciri-ciri imam mahdi yang akan datang setelah dirinya adalah seseorang yang masih saudara Nabi Muhammad. Sedangkan Nabi Isa juga masih saudaranya karena sama-sama keturunan Nabi Ibrahim. Dan, katanya imam mahdi namanya sama, muhammad juga. Sedangkan Muhammad Annaqib adalah nama lain dari Nabi Isa.
Nabi Muhammad bin Abdullah wafat pada tahun 632 Masehi diusia 60 tahun, sedangkan Muhammad Annaqib wafat pada tahun 857 Masehi. Berarti, sebenarnya yang melanjutkan kerasulan Nabi Muhammad bin Abdullah adalah Muhammad Annaqib atau Nabi Isa. Sama halnya dengan makna nama bulan Hijriah, Rabiul awal, yaitu kerasulan Nabi Isa yang pertama sebelum mengalami penyaliban. Rabiul akhir, yaitu kerasulan Nabi Isa yang kedua atau yang terakhir, yaitu setelah terbangun dari tidur panjangnya di Gua Kahfi selama 309 tahun. Kemudian Nabi Isa bertemu Nabi Muhammad kira-kira di tahun 609 Masehi, kemudian bertemu lagi di tahun 611 Masehi.
Muhammad Annaqib merupakan nama lain dari Nabi Isa yang diberikan oleh Tuhan setelah bangun dari tidur wafatnya. Annaqib adalah sebutan bagi Nabi Yusup yang bekerja sebagai naqib atau pejabat di Mesir dianggap sebagai ayah angkatnya yang selalu setia mendampingi dan selalu siap menolong Nabi Isa.
Nabi Isa menggunakan nama Muhammad Annaqib setelah Nabi Muhammad bin Abdullah wafat. Nabi Muhammad jumpa Nabi Isa di tahun 609 Masehi. Nabi Muhammad wafat tahun 632 Masehi. Muhammad Annaqib wafat kira-kira tahun 857 Masehi di Basharat Nagar India. Di India Nabi Isa dikenal dengan nama Yuzasaf. Sedangkan Isa Ar Rumi, anak Isa dari istrinya yang berasal dari bangsa Room malah meninggal tahun 298 Masehi. Wallahu alam. Hanya Allah yang memegang kebenaran. Aku hanya menuliskan yang Tuhan izinkan aku paham. Semoga Tuhan selalu menyempurnakan pemahamanku. Amin.
BAB XI
MAKALAHKU TENTANG TUHAN ITU ILMIAH
Aku mendengar perdebatan antara sains dan agama, seolah-olah keduanya berdiri di sisi yang berlawanan. Namun, saat aku telaah lebih dalam, justru ilmu pengetahuan dapat menjadi jembatan untuk memahami kebesaran Tuhan. Tuhan itu ilmiah, bukan berarti Tuhan bisa direduksi menjadi rumus atau eksperimen, melainkan bahwa ciptaan-Nya tunduk pada hukum-hukum alam yang konsisten dan dapat dipelajari manusia.
Alam semesta berjalan dengan keteraturan. Planet berputar mengelilingi matahari sesuai hukum gravitasi, air mengalir dari tempat tinggi ke rendah mengikuti hukum fisika, dan tubuh manusia bekerja dengan sistem biologis yang kompleks. Semua keteraturan ini menunjukkan bahwa Tuhan menciptakan dunia dengan prinsip ilmiah. Tanpa hukum yang konsisten, mustahil manusia bisa melakukan penelitian, membuat teknologi, atau merencanakan kehidupan sehari-hari.
Ilmu pengetahuan dapat dipandang sebagai bahasa Tuhan. Melalui sains, manusia membaca “kitab alam semesta” yang ditulis dengan hukum fisika, kimia, dan biologi. Fisika menjelaskan bagaimana cahaya bergerak, tetapi keberadaan cahaya itu sendiri adalah anugerah Tuhan. Biologi menguraikan proses reproduksi, tetapi keajaiban kehidupan tetap menjadi misteri yang melampaui sekadar mekanisme. Astronomi menghitung jarak bintang, tetapi keindahan langit malam tetap mengundang rasa kagum yang bersifat spiritual.
Aku pernah merasa ragu apakah sains bertentangan dengan iman. Hingga aku bertemu sahabatku yang memberiku pencerahan. Ia berkata, “Tuhan itu ilmiah. Ia menciptakan alam dengan hukum yang konsisten. Jika tidak, bagaimana mungkin manusia bisa memprediksi gerakan planet atau menemukan obat penyakit?”
Ilmu bukanlah lawan iman, melainkan sarana untuk memahami ciptaan Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, petani menanam padi dengan memperhatikan musim hujan. Mereka menggunakan pengetahuan tentang iklim, tanah, dan air. Namun, mereka juga berdoa agar hasil panen diberkati. Ilmu membantu mereka bekerja, iman memberi makna pada usaha mereka.
Dokter menggunakan obat hasil penelitian panjang untuk menyembuhkan pasien. Kesembuhan bukan hanya mukjizat, tetapi juga buah dari ilmu pengetahuan. Namun, doa pasien dan keluarganya tetap menjadi bagian penting dari proses penyembuhan.
Sejak saat itu, aku menyadari bahwa setiap eksperimen adalah cara manusia membaca kitab besar bernama alam semesta. Aku tulis dalam buku catatanku, “Jika ilmu adalah cahaya, maka Tuhan adalah sumber cahaya itu. Jika hukum alam adalah bahasa, maka Tuhan adalah penulisnya. Menolak ilmu sama saja menolak cara Tuhan berbicara kepada manusia.”
Tuhan itu ilmiah bukan berarti Tuhan bisa dijelaskan sepenuhnya oleh sains, melainkan bahwa hukum-hukum alam adalah cara Tuhan menata ciptaan-Nya. Para filsuf dan ilmuwan dari berbagai zaman dari Aquinas hingga Einstein, dari Newton hingga Hawking, telah bergulat dengan pertanyaan yang sama, “Mengapa alam semesta begitu teratur?” Jawaban yang muncul beragam, tetapi satu hal jelas, keteraturan itu membuka ruang bagi keyakinan bahwa ada Sang Pencipta yang rasional.
Tuhan itu ilmiah bukan berarti Tuhan terbatas pada sains, melainkan bahwa sains adalah salah satu jalan untuk memahami ciptaan-Nya. Semakin dalam manusia mempelajari ilmu, semakin besar rasa kagum terhadap Sang Pencipta. Ilmu menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi, sedangkan iman menjelaskan mengapa sesuatu itu ada. Keduanya saling melengkapi, bukan bertentangan.
Sejak kecil, aku sering bertanya-tanya tentang fenomena alam. Mengapa matahari terbit dari timur? Mengapa hujan turun? Mengapa manusia bisa berpikir? Jawaban yang aku terima dari ibuku sederhana, “Itu semua kehendak Tuhan.” Namun, ketika aku beranjak dewasa dan belajar fisika serta biologi, aku menemukan penjelasan ilmiah yang lebih rinci. Alih-alih membuatku menjauh dari keyakinan, pengetahuan itu justru menambah kekagumanku. Bagiku, hukum-hukum alam adalah bahasa Tuhan yang bisa dipahami manusia.
Suatu waktu, aku berbicara dengan orang yang skeptis terhadap agama. Ia berkata, “Kalau semua bisa dijelaskan dengan sains, buat apa percaya Tuhan?” Aku tersenyum dan menjawab, “Sains menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi, tapi Tuhan menjelaskan mengapa sesuatu itu ada. Sains menemukan hukum gravitasi, tapi siapa yang menuliskan hukum itu? Sains menemukan DNA, tapi siapa yang merancang kode kehidupan?”
Aku mengamati kehidupan di sekitarku. Aku melihat bagaimana petani di desa menanam padi dengan memperhatikan musim hujan. Mereka tidak hanya berdoa, tetapi juga menghitung waktu tanam berdasarkan pengalaman dan pengetahuan. Mereka menyadari bahwa doa adalah bentuk pengakuan akan keterbatasan manusia, sedangkan ilmu adalah alat yang diberikan Tuhan agar manusia bisa bertahan hidup.
Ketika seorang tetanggaku sakit, ia pergi ke dokter untuk berobat. Obat merupakan hasil penelitian panjang. Aku melihat bahwa kesembuhan bukan hanya mukjizat, tetapi juga buah dari kerja keras ilmuwan yang mempelajari tubuh manusia. Bukankah itu juga bagian dari rencana Tuhan?
Sejak lama aku merasa bahwa ilmu pengetahuan bukanlah lawan iman. Semakin aku belajar fisika dan biologi, semakin aku kagum pada keteraturan alam. Bukankah itu tanda bahwa Tuhan itu ilmiah?
Jadi, sains memberi kita mekanisme, sedangkan Tuhan memberi kita makna. Newton pun melihat hukum gravitasi sebagai bukti rancangan Tuhan. Ia tidak merasa bahwa penemuannya meniadakan Tuhan, justru sebaliknya.”
Einstein sendiri pernah berkata, “Tuhan tidak bermain dadu. Ia melihat keteraturan kosmos sebagai bukti adanya prinsip rasional yang mendasari realitas.”
Dalam tradisi Islam klasik, Ibn Sina dan Al-Ghazali juga membahas hal ini. Ibn Sina melihat Tuhan sebagai ‘Wujud Niscaya’ yang menjadi dasar segala keberadaan. Al-Ghazali menekankan bahwa hukum alam hanyalah kebiasaan yang ditetapkan Tuhan. Jadi, keteraturan itu bukan kebetulan, melainkan kehendak Ilahi.”
“Hmm… aku mulai mengerti. Jadi, keteraturan alam yang bisa dipelajari sains justru menunjukkan bahwa Tuhan itu ilmiah. Ia menata dunia dengan sistem yang bisa dipahami manusia.”
Ilmu dan iman bukanlah dua jalan yang berbeda, melainkan dua sisi dari satu perjalanan menuju kebenaran. Menolak ilmu sama saja menolak cara Tuhan berbicara kepada manusia. Tuhan itu ilmiah, karena Ia menata alam dengan keteraturan yang bisa dipahami, diteliti, dan dimanfaatkan untuk kebaikan.
Setelah perjalanan panjang, Aku menyimpulkan bahwa Tuhan itu ilmiah. Bukan dalam arti Tuhan bisa dijelaskan dengan rumus, melainkan bahwa Tuhan memilih cara yang konsisten, rasional, dan dapat dipelajari untuk mengatur alam semesta. Ilmu adalah jalan untuk memahami ciptaan-Nya, sedangkan iman adalah jalan untuk memahami tujuan-Nya.
Aku menulis makalah-makalahku dengan ilmu dan iman untuk menuju kebenaran. Lalu, kenapa aku divonis penista dan gila?
BAB XII
WAKTU KEMATIANKU TIBA
Empat bulan setelah vonis itu, aku masih sempat menulis dua makalahku. Namun, setelah itu kurasakan hidupku makin mengecil menjadi ruang-ruang sempit, kamar tidur, dapur, kursi dekat jendela. Telingaku tidak lagi mendengar suara orang-orang berbicara dengan berbagai bahasa. Mau menuliskan pemikiranku di facebook kurasa seperti berjalan di atas pecahan kaca, takut salah langkah, takut salah kata, takut dianggap menista.
Aku merindukan anak-anakku. Tiga wajah yang belakangan selalu hadir dalam mimpiku. Anak pertamaku yang bekerja di Surabaya. Ia sudah dewasa, sudah mengenal kerasnya hidup. Ia sesekali mengirim pesan via WA, menanyakan kabarku dengan bahasa yang singkat dan hati-hati. Anak keduaku kuliah di ISI Jogja, tenggelam dalam dunia seni dan pencarian jati diri. Anak ketigaku kuliah di Unesa, sibuk dengan tugas, ujian, dan masa depan yang sedang ia bangun. Mereka semua berjalan ke arah hidup masing-masing. Dan, aku… berhenti di sini.
Suamiku tinggal di Batam. Jarak kami bukan sekadar ribuan kilometer, tetapi juga rasa. Ia jarang menelepon. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena kami sama-sama tidak tahu harus bicara apa. Kata-kata terasa berbahaya, takut salah, takut menyentuh luka yang belum kering. Aku mengerti posisinya, ia harus bekerja, bertahan, dan tetap kuat untuk anak-anak kami.
Hari-hariku menyatu tanpa batas. Tidak ada lagi Senin atau Jumat. Tidak ada lagi rencana. Aku hanya menunggu, entah apa, entah siapa.
Suatu sore, hujan turun deras. Aku duduk di dekat jendela, memandang air yang membasahi tanah. Bau tanah basah mengingatkanku pada masa lalu, saat aku masih utuh sebagai ibu, istri, dan manusia yang dianggap wajar. Dadaku terasa sesak. Aku tidak menangis. Air mata seolah sudah habis.
Malam adalah waktu yang paling jujur. Di siang hari aku masih bisa berpura-pura kuat. Tapi ketika lampu dipadamkan dan suara mereda, kesepian datang tanpa izin. Aku mendengar detak jam dinding seperti hitungan mundur. Aku memeluk bantal, membayangkan itu adalah tubuh anak-anakku. Aku menangis tanpa suara.
Nafsu makanku menghilang pelan-pelan, seperti senja yang tidak pernah benar-benar gelap. Awalnya hanya rasa pahit di lidah. Lalu perutku menolak apa pun yang masuk. Nasi terasa seperti pasir. Air pun sulit kutelan. Aku mencoba memaksa, demi dapat menyakiskan anak-anak mencapai cita-cita dan hidup bahagia. Namun, tubuhku seperti berhenti bekerja sama dengan keinginanku.
Dokter bilang itu psikosomatis. Luka batin yang menjelma penyakit. Aku mengangguk, pura-pura paham. Dalam hati aku tahu, aku sedang menghilang dari dunia yang sudah lebih dulu menghapusku.
Setiap malam aku duduk di dekat jendela kamarku yang beku, memandang langit yang sama dengan yang menaungi Batam. Aku membayangkan anak-anakku tidur berjejer, napas mereka teratur. Aku membayangkan suamiku duduk di ruang tamu, lelah setelah seharian bekerja. Aku ingin pulang, tetapi pulang ke mana? Ke rumah yang penuh pertanyaan? Ke pelukan yang mungkin ragu?
Aku mengucap kalimat. Isinya selalu sama, permintaan maaf yang tak pernah selesai. Maaf karena ibu tidak kuat. Maaf karena ibu berbeda. Maaf karena ibu tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di kepala ibu saat itu. Saat kata-kata keluar tanpa filter, saat keyakinan bercampur delusi, saat aku sendiri tak tahu mana iman dan mana khayalan.
Orang bilang kegilaan adalah ketiadaan akal. Bagiku, kegilaan adalah kelebihan rasa. Terlalu banyak bertanya. Terlalu dalam percaya. Terlalu jujur pada suara-suara di kepala sendiri. Dan, dunia tidak memberi ruang bagi yang terlalu.
Tubuhku makin melemah. Tanganku gemetar saat mengangkat gelas. Kaki rasanya berat, seolah terikat pada lantai. Aku sering tertidur di siang hari dan terjaga di malam hari, ditemani bunyi jam dinding yang kejam menghitung sisa waktu. Aku tidak tahu kapan tepatnya aku mulai menerima kemungkinan mati. Mungkin saat aku berhenti takut.
Hari itu aku tidak makan sama sekali. Tubuhku terlalu lemah untuk bangun. Aku hanya berbaring, memandangi langit-langit kamar. Dalam kepalaku, wajah anak-anakku muncul satu per satu. Aku ingin memeluk mereka. Aku ingin meminta maaf. Aku ingin berkata bahwa ibu tidak gagal mencintai, ibu hanya gagal bertahan.
Hari-hari berikutnya tubuhku benar-benar menyerah. Aku sering terjatuh. Aku lupa minum obat. Aku lupa minum air. Kesadaran datang dan pergi seperti ombak kecil. Namun anehnya, hatiku justru semakin tenang. Tidak ada lagi perlawanan. Tidak ada lagi ketakutan.
Aku terbaring di ranjang rumah sakit. Bau antiseptik menyambutku seperti kenalan lama. Dokter berbicara pelan, perawat tersenyum profesional. Tidak ada keluarga di sisiku. Handphoneku kosong. Aku meminta selembar kertas dan pena. Aku menulis untuk terakhir kalinya, “Untuk anak-anakku. Jika suatu hari kalian membaca ini, ketahuilah bahwa ibu mencintai kalian lebih dari apa pun. Jangan percaya semua yang orang katakan tentang ibu. Jangan pula membenci mereka. Dunia sering takut pada yang tidak ia pahami. Jadilah berani, tetapi juga lembut. Percayalah pada Tuhan, tetapi jangan lupa berpikir. Dan, jika suatu hari kalian merasa berbeda, ingatlah berbeda bukan dosa.”
Aku menandatangani surat itu dengan tangan gemetar. Air mataku jatuh, membasahi tinta.
Malam itu, aku bermimpi berada di laut. Airnya tenang, langitnya luas. Tidak ada suara menuduh. Tidak ada palu hakim. Hanya keheningan yang ramah. Aku merasa ringan, untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Aku tahu waktuku tidak lama lagi. Aku tidak panik. Aku hanya berbisik pelan, hampir tanpa suara, “Tuhan… jika penderitaanku di dunia sudah cukup, izinkan aku pulang.”
Tidak ada malaikat yang terlihat. Tidak ada cahaya menyilaukan. Hanya keheningan yang lembut. Aku menutup mata dengan perasaan ringan. Kesepian yang selama ini menemaniku perlahan menjauh.
Aku mati bersama kesepianku. Tidak ada yang memegang tanganku saat napas terakhirku terlepas. Tidak ada yang memanggil namaku. Dinding kamar bangsal Seroja pasien jiwa RSDS Kebumen menjadi saksi bisu berakhirnya perjalanan seorang perempuan yang terlalu lama memikul beban sendiri.
Namun aku percaya, kematian bukanlah kekalahan. Ia adalah akhir dari penderitaan yang tidak sanggup lagi kuterjemahkan ke dalam kata-kata. Jika dunia tidak memberiku ruang untuk bahagia, aku berharap surga akan menerimaku tanpa prasangka. Aku ingin hidup bahagia bersama Tuhan, tanpa tuduhan, tanpa vonis, tanpa kesepian. Amin.
Ketika pagi datang, aku tidak bangun. Berita kematianku tidak ramai. Hanya suara pengeras musala. “Telah meninggal dunia Ibu Sri karena sakit.” Tidak ada yang menulis tentang kegilaan. Tidak ada yang menulis tentang penistaan yang lahir dari luka. Tidak ada yang menulis tentang tiga anakku yang kehilangan ibu mereka untuk kedua kalinya.
Namun aku berharap, di suatu malam nanti, ketika anak-anakku menatap langit, mereka akan merasakan sesuatu yang hangat, bukan rasa malu, bukan rasa takut. Melainkan keyakinan kecil bahwa ibu mereka, dengan segala kekurangannya, pernah berusaha mencintai dunia, meski dunia tidak selalu tahu cara membalas cintanya.
TAMAT
